Bagaimana Merawat Tanaman Hias Saat Musim Hujan agar Akar Tidak Busuk?

Merawat tanaman hias saat musim hujan sebenarnya bukan soal jadi lebih rajin menyiram. Yang perlu diatur ulang justru air, pot, cahaya, dan sirkulasi udara. Tanaman di rumah sering kelihatan aman karena permukaan tanah cepat kering, padahal bagian bawah pot masih lembap dan akar mulai susah bernapas.
Saya makin percaya soal ini setelah mendengar cerita Sari, kenalan dari komunitas tanaman yang sering saya temui waktu berbagi bibit di Mataram. Musim hujan 2024, Sari di Warung Tanaman Bu Nining, Jalan Raya Tlogomas, hampir langsung mengganti pot sirih gading barunya yang dibeli Rp15.000. Untungnya, ia ditahan dulu supaya tanamannya tidak stres Variasi kasusnya saya kupas di bengkel produktif.

Apa yang paling perlu diubah dari rutinitas menyiram saat musim hujan?
Yang pertama perlu diubah adalah cara menentukan waktu siram. Jangan lagi terlalu patuh pada jadwal kaku, misalnya setiap pagi atau dua hari sekali, karena musim hujan membuat penguapan lebih lambat. Tanaman hias di teras, dekat jendela, atau sudut ruang yang kurang angin bisa menyimpan air lebih lama dari perkiraan.
Cara paling aman adalah mengecek media tanam, bukan menebak dari daun saja. Daun layu memang bisa berarti kurang air, tapi bisa juga muncul saat akar terlalu basah dan mulai terganggu. Kalau saya pribadi, patokan paling praktis adalah memasukkan jari atau tusuk kayu ke media tanam sedalam beberapa sentimeter. Bila masih ada tanah menempel basah, tunda siram.
Cerita Mbak Rina di Toko Kembang Lestari, Jalan Kaliurang KM 7, Februari 2024, pas sekali untuk menjelaskan ini. Ia pernah menunjukkan monstera yang ujung daunnya menguning setelah disiram tiap pagi. Dia ketawa kecut sambil bilang pot 18 cm itu ternyata masih basah di bawah, padahal permukaannya kering. Sejak pakai tusuk sate kayu untuk cek 4 cm tanah, jadwal siramnya jadi 3 hari sekali. Bau tanah lembapnya beda, tidak lagi apek.
Detail kecil seperti itu sering disepelekan, padahal penting. Bau apek biasanya tanda media terlalu lama basah, terutama kalau campurannya padat. Menurut penjelasan umum tentang kelembapan, kandungan uap air di udara memengaruhi proses pengeringan. Saat udara lembap, media tanam tidak cepat melepas air. Ya begitulah, musim hujan membuat tanaman minum lebih lambat walau kita merasa sudah “sedikit” menyiram.
Untuk tanaman seperti monstera, sirih gading, aglaonema, peace lily, dan philodendron, lebih baik menunda satu hari daripada menyiram saat media masih basah. Akar butuh air, tapi juga butuh rongga udara.
Bagaimana memilih pot dan media tanam agar akar tidak mudah busuk?
Pot yang lebih aman saat musim hujan adalah pot yang punya lubang drainase jelas, tidak tertutup piringan berisi air, dan ukurannya tidak terlalu besar dibanding akar. Pot terlalu besar menyimpan media basah lebih banyak. Tanaman kecil di pot besar sering tampak “nyaman”, padahal akarnya berada di tengah media lembap yang lama kering.
Media tanam juga jangan terlalu berat. Campuran tanah kebun murni biasanya cepat memadat setelah sering terkena air. Untuk tanaman hias daun, saya lebih suka media yang remah: tanah secukupnya, sekam bakar, cocopeat sedikit, kompos matang, dan bahan berpori seperti perlite atau pecahan arang. Tidak harus mahal. Yang penting air bisa lewat, tetapi media tetap menyimpan lembap secukupnya.
Kasus Sari tadi jadi contoh bagus. Musim hujan 2024, Sari di Warung Tanaman Bu Nining, Jalan Raya Tlogomas, hampir langsung mengganti pot sirih gading barunya yang dibeli Rp15.000. Bu Nining menahan sambil bilang tunggu 7 hari biar tanaman tidak kaget. Sore itu gerimis halus, tangan terasa dingin pegang polybag basah. Setelah seminggu, Sari baru pindahkan ke pot terakota berlubang 8, dan daunnya tetap mengilap.
Saya suka bagian “tunggu 7 hari” itu. Orang sering terlalu cepat memindahkan tanaman baru, apalagi setelah beli dari toko. Padahal tanaman sedang menyesuaikan cahaya, suhu, angin, dan kelembapan rumah baru. Kalau langsung bongkar akar saat media masih basah, risikonya lumayan juga: akar halus putus, luka sulit kering, lalu jamur lebih mudah masuk.
Pot terakota membantu karena dindingnya berpori, sehingga media lebih cepat bernapas dibanding pot plastik tebal. Namun pot terakota juga membuat media lebih cepat kering saat cuaca panas, jadi tetap perlu dicek. Tidak ada pot yang otomatis sempurna, jadi jangan terlalu percaya diri juga kalau baru ganti pot.

Kenapa tanaman baru sebaiknya tidak langsung dipindah pot saat hujan sering turun?
Tanaman baru sebaiknya diberi masa adaptasi karena perpindahan dari toko ke rumah saja sudah cukup membuatnya stres. Di toko, tanaman biasa mendapat pola cahaya, kelembapan, dan penyiraman tertentu. Begitu masuk rumah, semuanya berubah. Kalau langsung dipindah pot, akar menerima dua tekanan sekaligus: lingkungan baru dan gangguan fisik.
Saat musim hujan, stres itu lebih terasa karena luka pada akar atau batang lebih lambat kering. Media yang basah terus-menerus membuat area luka rentan lembap. Bukan berarti repotting dilarang, tapi waktunya perlu dipilih. Kalau tanaman baru terlihat segar, tidak ada akar keluar berlebihan, dan media belum bau, menunggu beberapa hari biasanya lebih bijak.
Saya pernah mengobrol lagi dengan Sari, kenalan komunitas tanaman yang tinggal sementara di sekitar Mataram untuk kerja keluarga, tentang sirih gading Rp15.000 itu. Ia mengaku ngga nyangka hanya menunggu seminggu bisa membuat bedanya terasa. Saat pertama beli, polybag masih basah dan terasa dingin di tangan. Gerimis halus sore itu membuat suasana makin lembap. Kalau dipaksa pindah saat itu, akar sirih gading kemungkinan ikut tertarik bersama media yang menggumpal.
Setelah tujuh hari, media lebih mudah dilepas. Tanaman juga sudah menunjukkan tanda stabil: daun tidak lunglai, warna tetap rata, dan tidak ada bau asam dari pangkal batang. Baru setelah itu ia pindahkan ke pot terakota berlubang 8. Daunnya tetap mengilap, bukan menguning di ujung Sudah saya singgung sebagian di bengkel.
Tanda tanaman siap pindah pot antara lain akar mulai memenuhi polybag, media cepat kering secara wajar, daun baru tetap muncul, dan tidak ada gejala busuk. Jika harus segera pindah karena media lama terlalu becek atau berbau, lakukan pelan-pelan. Jangan mencuci akar secara berlebihan kecuali ada busuk yang jelas. Buang bagian akar hitam lembek, lalu pakai media baru yang lebih porous.
Berapa sering tanaman hias perlu dicek saat cuaca lembap?
Saat musim hujan, pengecekan ringan sebaiknya dilakukan tiap dua sampai tiga hari, tapi penyiraman belum tentu mengikuti frekuensi itu. Cek bukan berarti siram. Cek berarti melihat daun, menyentuh media, mengangkat pot untuk merasakan beratnya, dan mencium apakah ada bau tanah yang tidak normal.
Saya biasanya memakai pola sederhana seperti ini:
- Cek 2 sampai 3 hari sekali untuk tanaman dalam ruang.
- Siram hanya jika 3 sampai 5 cm bagian atas media mulai kering.
- Kosongkan tatakan air setelah penyiraman atau setelah terkena tampias hujan.
- Putar pot seminggu sekali agar cahaya merata.
- Pangkas daun kuning yang sudah lemah supaya tidak mengundang jamur.
Pola ini tidak kaku, tapi membantu bangeet. Tanaman di dekat jendela yang mendapat angin bisa lebih cepat kering. Tanaman di kamar mandi terang atau sudut dapur lembap bisa jauh lebih lambat. Suara hujan di luar sering membuat kita merasa tanaman butuh “dirawat ekstra”, padahal kadang yang dibutuhkan justru dibiarkan dulu sebntar.
Mbak Rina dari Toko Kembang Lestari pernah bilang, setelah kasus monstera pot 18 cm yang menguning itu, ia jadi lebih sering mengangkat pot sebelum menyiram. Pot yang masih berat biasanya belum perlu air. Ia juga tetap memakai tusuk sate kayu untuk cek 4 cm tanah, terutama pada pot yang permukaannya tertutup dekorasi batu. Bau tanah lembapnya beda, tidak lagi apek setelah jadwal siramnya diubah jadi 3 hari sekali.
Saya setuju dengan cara itu karena murah dan mudah diulang. Tidak semua orang punya moisture meter, dan tidak semua alat murah akurat. Tusuk kayu, jari, hidung, dan kebiasaan mengamati sering lebih berguna untuk pemilik tanaman rumahan. Kadang alat paling sederhana justru yang paling kepake.

Musim hujan bukan musuh tanaman hias, tapi cara rawatnya perlu lebih pelan dan teliti. Kurangi penyiraman berbasis jadwal, pilih pot berlubang dengan media yang tidak padat, beri waktu adaptasi untuk tanaman baru, dan cek kelembapan sebelum mengambil tindakan. Coba perhatikan satu hal: tanaman yang terlihat diam sering sedang memberi tanda, hanya saja tandanya muncul dari media, bau tanah, dan berat pot, bukan dari daun saja.
Untuk konteks lebih: sumber resmi.
Bacaan lanjutan: Bengkel pemula
Sumber lanjutan: sumber resmi
